Rutinan Ahad PON

Tahlil dan Kajian Rutin Kitab Risalah Aswaja, Kitab Karya Mbah Hasyim ASy'ari

Berkah Ramadlan Bersama GP Ansor

Kegiatan Sosial yang akan dilaksanakan oleh PAC GP Ansor Bantarkawung seperti Santunan Fakir Miskin, Yatim piatu dan berbagi Takjil di Bulan Ramadhan.

Bakti Negeri dalam Satgas Covid 19

Kegiatan Satgas Covid 19 yang dilaksanakan Muspika melibatkan ormas-ormas termasuk Sahabat Banser.

Showing posts with label Tokoh NU. Show all posts
Showing posts with label Tokoh NU. Show all posts

Wednesday, 19 December 2018

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy'ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur'an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur'an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gu Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik.
Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa. 

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma'sum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.

Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul 'The Story of Civilazation'. Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin 'What is To Be Done' . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya. Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur.

Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo. 

Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki. 

Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970. Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas.

Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh.


Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam. Namun, akhirnya ia kembali ke Indoneisa setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya. 

Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik.



Gus Dur Wafat
Gus Dur wafat, hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkosumo, Jakarta, pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit, diantarnya jantung dan gangguan ginjal yang dideritanya sejak lama.
Rangkuman
Penghargaan :
1. Tokoh 1990, Majalah Editor, tahun 1990
2. Ramon Magsaysay Award for Community Leadership, Ramon Magsaysay Award Foundation, Philipina, tahun 1991
3. Islamic Missionary Award from the Government of Egypt, tahun 1991
4. Penghargaan Bina Ekatama, PKBI, tahun 1994
5. Man Of The Year 1998, Majalah berita independent (REM), tahun 1998
6. Honorary Degree in Public Administration and Policy Issues from the University of Twente, tahun 2000
7. Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, tahun 2000
8. Doctor Honoris Causa dalam bidang Philosophy In Law dari Universitas Thammasat Thaprachan Bangkok, Thailand, Mei 2000
9. Doctor Honoris Causa dari Universitas Paris I (Panthéon-Sorbonne) pada bidang ilmu hokum dan politik, ilmu ekonomi dan manajemen, dan ilmu humaniora, tahun 2000
10. Penghargaan Kepemimpinan Global (The Global Leadership Award) dari Columbia University, September 2000
11. Doctor Honoris Causa dari Asian Institute of Technology, Thailand, tahun 2000
12. Ambassador for Peace, salah satu badan PBB, tahun 2001
13. Doctor Honoris Causa dari Universitas Sokka, Jepang, tahun 2002
14. Doctor Honoris Causa bidang hukum dari Konkuk University, Seoul Korea Selatan, 21 Maret 2003.
15. Medals of Valor, sebuah penghargaan bagi personal yang gigih memperjuangkan pluralism dan multikulturalisme, diberikan oleh Simon Wieshenthal Center (yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM dan toleransi antarumat beragama), New York, 5 Maret 2009.
16. Penghargaan nama Abdurrahman Wahid sebagai salah satu jurusan studi Agama di Temple University, Philadelphi, 5 Maret 2009.


NAMA LENGKAP

KH. Abdurrahman Wahid

TEMPAT / TANGGAL LAHIR

Jombang, 04 Agustus 1940

AYAH

KH. A. Wahid Hasyim

IBU

Ny. Hj. Sholehah

ISTRI

Sinta Nuriyah

ANAK

  • Alissa Qotrunnada
  • Zannuba Ariffah Chafsoh
  • Anita Hayatunnufus
  • Inayah Wulandari

PENDIDIKAN

  • 1966-1970
    Universitas Baghdad, Irak, Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab
  • 1964-1966
    Al Azhar University, Cairo, Mesir, Fakultas Syari'ah (Kulliyah al-Syari'ah)
  • 1959-1963
    Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Indonesia
  • 1957-1959
    Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia

PENGALAMAN JABATAN

  • 1999-2001
    Presiden Republik Indonesia
  • 1989-1993
    Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
  • 1987-1992
    Ketua Majelis Ulama Indonesia
  • 1984-2000
    Ketua Dewan Tanfidz PBNU

Tuesday, 18 December 2018

KH. Said Agil Siradj



Ketokohan kiai yang satu ini makin kuat setelah ia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) selama dua periode. Keilmuannya pun tak diragukan. Tak hanya soal agama, Said Aqil Siroj juga sering terlibat dalam gerakan anti diskriminasi dan berjuang bersama lintas agama. Tradisi yang selalu dijaga seperti yang dilakukan tokoh besar NU lainnya.

Kiai kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 3 Juli 1953 ini memulai sekolahnya di Madrasah Tarbiyatul Mubtadi'ien, Kempek, Cirebon. Pada usia 12 tahun, ia mondok di Hidayatul Mubtadi'en, Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Di sini dia menjadi santri selama lima tahun. Dia juga meneruskan mengajinya di Pesantren Al-Munawar Krapyak, Yogyakarata, selama tiga tahun dan lulus pada usia 22 tahun.

Pendidikannya berlanjut. Dia meneruskan pendidikannya ke luar negeri. Said Aqil Siroj mengambil pendidikan S1-nya di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah di Universitas King Abdul Aziz, Arab Saudi. Dia berhasil lulus pada tahun 1982. Kepalang tanggung, dia meneruskannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dia mengambil S2 jurusan Perbandingan Agama dan S3 jurusan Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Umm al-Qura, Mekah, Arab Saudi, dan berhasil meraih doktor pada usia 41 tahun.

Sejak mahasiswa, Siroj terlibat aktif di organisasi Nahdlatul Ulama (NU), di antaranya adalah menjadi sekertaris PMII Rayon Krapyak, Yogyakarta, dan menjadi Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekah pada  tahun 1983-1987. Selain menjadi pengurus organisasi, ia juga mempunyai kegiatan lainnya, menjadi tim ahli bahasa Indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah di tahun 1991

Sekembalinya dari Timur Tengah, Aqil Siroj makin aktif di tingkat nasional. Keahliannya dalam kajian keislaman, ia diminta menjadi dosen di berbagai kampus di dalam negeri. Di antaranya dia tercatat sebagai dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIIQ), Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta pada tahun 1995.  Bahkan dua tahun kemudian ia menjadi Wakil Direktur Universitas Islam Malang.  

Selain berkecimpung di dunia akademisi, dia juga terlibat dalam dunia gerakan lintas agama dan anti driskiminasi dengan menjadi Penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi) dan pada tahun yang sama, ia menjadi Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kerusuhan Mei 1998.  

Namanya makin menasional saat dia dicalonkan sebagai ketua umum PB NU. Dia menggantikan ketua umum sebelumnya KH. Hayim Muzadi. Siroj berhasil menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode 2010-2015. Sukses membawa warga nahdliyin, seperti ditulis dalam situs NU, ia kembali dipercaya menjadi ketua umum PB NU 2015-2020.

KELUARGA      
Istri          : Hj. Nur Hayati Abdul Qodir
Anak       : Muhammad Said Aqil
                 Nisrin Said Aqil
                 Rihab Said Aqil
                 Aqil Said Aqil

PENDIDIKAN
Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
Hidayatul Mubtadi’en Pesantren Lirboyo Kediri, 1965-1970
Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta,1972-1975
S1, Ushuluddin dan Dakwah, Universitas King Abdul Aziz, 1982
S2, Perbandingan Agama, Universitas Umm al-Qura, Mekah, 1987
S3, Aqidah dan Filsafat Islam, University of Umm al-Qura, Mekah, 1994

KARIER
Sekertaris PMII Rayon Krapyak, Yogyakarta, 1972-1974
Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekkah, 1983-1987
Tim ahli bahasa Indonesia, Surat Kabar Harian Al-Nadwah Mekah,1991
Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ),1995-1997
Dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1995
Wakil Katib ‘aam PBNU, 1994-1998
Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma),1997-1999
Katib ‘Aam PBNU, 1998-1999
Penasihat fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya), 1998
Wakil ketua dari lima tim penyusun rancangan AD /ART PKB,1998
Penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi),1998
Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB), 1998
Penasehat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI, 1998
Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta (TGPF) Kerusuhan Mei,1998
Ketua TGPF Kasus pembantaian Dukun Santet Banyuwangi,1998)
Dosen luar biasa di Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri, 1999
Penasehat PMKRI, 1999
Ketua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri,1999
Penasehat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI), 2001
Anggota Kehormatan MATAKIN, 1999-2002
Dosen Universitas NU Solo, 2003
Dosen Pascasarjana ST Ibrahim Maqdum, Tuban, 2003
Rais Syuriah PBNU,1999-2004
Ketua PBNU, 2004
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), 2010-2015
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), 2015-2020

KH. Hasyim Asy'ari


K.H. Hasyim memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim bin Asy‟ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim. Abdul Halim ini terkenal dengan nama Pangeran Benawa bin Abdurrahman yang juga dikenal dengan julukan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatah bin Maulana Ishak bin Ainul Yakin yang popular dengan sebutan Sunan Giri. Sementara itu ada yang menyebutnya dengan Muhammad Hasyim binti Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabbar bin Ahmad bin Pangeran Sambo bin Pangeran Benawa bin Jaka Tingkir atau juga dikenal dengan nama Mas Karebet bin Lembu Peteng (Prabu Brawijaya VI). Penyebutan pertama menunjuk pada silsilah keturunan dari jalur bapak, sedangkan yang kedua dari jalur ibu. Dilihat dari dua silsilah di atas, Kiai Hasyim mewakili dua trah sekaligus, aristokrat atau bangsawan Jawa dan elit agama (Islam). Dari jalur ayah, mata rantai genetisnya bertemu langsung dengan bangsawan Muslim Jawa (Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir) dan sekaligus elit agama Jawa (Sunan Giri). Sementara dari jalur ibu, Kiai Hasyim masih keturunan langsung Raja Barwijaya VI (Lembu Peteng) yang berlatar belakang bangsawan Hindu Jawa. Kiai Hasyim lahir dari pasangan suami istri Kiai Asy‟ari dan Halimah pada hari Selasa Kliwon tanggal 14 Februari tahun 1871 M atau bertepatan dengan 12 Dhû al-Qadah tahun 1287 H. Tempat kelahiran beliau berada di sekitar dua kilometer arah utara dari kota Jombang, yaitu di pesantren Gedang. Gedang sendiri merupakan salah satu dusun yang menjadi wilayah administratif desa Tambakrejo kecamatan Jombang. Dengan demikian, dilihat dari waktu kelahirannya, dia dapat dipandang sebagai bagian dari generasi Muslim paruh akhir abad ke-19. Sejak masa kanak-kanak, Kiai Hasyim hidup dalam lingkungan pesantren tradisional Gedang. Keluarga besarnya tidak hanya pengelola pesantren, tetapi juga pendiri pesantren-pesantren yang masih cukup terkenal hingga saat ini. Ayah Kiai Hasyim (Kiai Asy‟ari) merupakan pendiri dan pengasuh pesantren Keras, sebuah daerah di Jombang. Sedangkan kakeknya dari jalur ibu (Kiai Utsman) dikenal sebagai pendiri dan pengasuh pesantren Gedang yang pernah menjadi pusat perhatian santri-santri Jawa pada akhir abad ke-19. Sementara kakek ibunya yang bernama Kiai Sihah dikenal sebagai pendiri dan pengasuh pesantran Tambakberas (Jombang). Pada umur lima tahun, Kiai Hasyim pindah dari Gedang ke desa Keras karena mengikuti ayah dan ibunya yang sedang membangun pesantren baru. Di sini, Kiai Hasyim menghabiskan masa kecilnya hingga berumur 15 tahun, kemudian meninggalkan desa Keras untuk belajar ke berbagai pesantren ternama saat itu hingga ke Makkah.  Pada usia yang ke-21, Kiai Hasyim menikah dengan Nafisah, salah seorang putri Kiai Ya‟qub dari Siwalan Panji, Sidoarjo. Pernikahan itu dilangsungkan pada tahun 1892 M/1308 H. Tidak lama kemudian, Kiai Hasyim bersama istri dan mertuanya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Bersama istrinya, Nafisah, Kiai Hasyim kemudian tinggal di Makkah untuk menuntut ilmu. Tujuh bulan kemudian, Nafisah meninggal dunia setelah melahirkan seorang putera bernama Abdullah. Empat puluh hari kemudian, Abdullah menyusul sang ibu. Kematian dua orang yang sangat dicintainya itu, membuat Kiai Hasyim sangat terpukul. Kiai Hasyim akhirnya memutuskan tidak berlama-lama di tanah suci dan kembali ke Indonesia setahun kemudian. Setelah lama menduda, Kiai Hasyim menikah lagi dengan seorang gadis anak dari Kiai Romli dari desa Karangkates Kediri bernama Khadijah. Pernikahannya dilakukan sekembalinya dari Makkah pada tahun 1899 M atau 1315 H. Pernikahannya dengan istri kedua juga tidak bertahan lama, karena dua tahun kemudian pada tahun 1901 M, Khadijah meninggal dunia.  Kiai Hasyim menikah lagi dengan perempuan bernama Nafiqah, anak Kiai Ilyas, pengasuh pesantren Sewulan Madiun. Dari hasil perkawinannya dengan Nafiqah, Kiai Hasyim mendapatkan sepuluh orang anak, yaitu: Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Hakim (Abdul Kholik), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashuroh, dan Muhammad Yusuf. Perkawinan Kiai Hasyim dengan Nafiqah juga berhenti di tengah jalan, karena Nafiqah meninggal dunia pada tahun 1920 M. Sepeninggal Nafiqah, Kiai Hasyim memutuskan menikah lagi dengan Masrurah, putri dari Kiai Hasan yang juga pengasuh pesantren Kapurejo, Pagu Kediri. Dari hasil perkawinan keempatnya ini, Kiai Hasyim memiliki empat orang anak: Abdul Qadir, Fatimah, Khodijah, dan Muhammad Ya‟qub. Perkawinan dengan Nafiqah ini merupakan perkawinan terakhir bagi Kiai Hasyim hingga akhir hayatnya. Menurut berbagai sumber, Kiai Hasyim meninggal dunia akibat penyakit darah tinggi atau stroke setelah menerima kabar tentang kondisi Indonesia saat itu. Pada tanggal 2 juli 1947, datang utusan Bung Tomo dan Jenderal Sudirman untuk menyampaikan kabar perihal agresi militer Belanda I. Dari keduanya, diperoleh kabar bahwa pasukan Belanda yang membonceng sekutu pimpinan Jenderal SH. Poor telah berhasil mengalahkan tentara republik dan menguasai wilayah Singosari Malang. Tidak hanya itu, pasukan Belanda juga menjadikan warga sipil sebagai korban, sehingga banyak di antara mereka meninggal dunia.


Galeri Photo



LEMBAGA EKONOMI ANSOR BANTARKAWUNG

Mari biasakan belanja di orang-orang kita. Karena dengan begitu kita bisa saling membantu sesama KADER NU dan sekaligus beramal di Nahdlatul Ulama

Menyediakan segala atribut NU, Pakaian NU,
minat Hubungi : Kyai Isro Mi'roj
Alamat Bangbayang, Komplek PONPES Bustanul Arifin
HP : 0813-9106-8569
(Melayani antar jemput)



Melayani Jahit segala pakaian
Minat Hubungi : Sahabat Ruhanto
Alamat Waru.
HP : 0838-4488-8181
(Melayani antar jemput)



Aneka KERAJINAN TANGAN
Minat Hubungi : Sahabat Adi Aoladi
Alamat Bangbayang.
HP : 0852-2617-8247
(Melayani antar jemput)